Iseng2 aja gw rekam semua hasil percakapan gw dengan profesor mikrobio pangan. Beginilah kira2 ujian lisan. Waktu menjelang ujian gw uda gak ada rasa takut lagi, apalagi gugup, yang ada malah seneng begitu liat profesornya. Akhirnya ujian juga, setelah ditunggu2 dari kapan tau
-___-
Protein
+ wie wird protein in Fleisch abgebaut ?
- zuerst durch extrazelluläre Proteasen
+ was entsteht ?
- peptid
+ und weiter
- peptid wird durch intrazelluläre peptidasen abgebaut.
+ aber wie kommen peptide in zelle rein ?
- ( keine idee, welche Antwort erwartet er ) wegen Stoffwechsel ??
+ na klar, peptide kommen durch Transport, ( nun kommt die Hinweis ) aktive oder passive Transport ?
- ( sofort geraten ) aktiv
+ richtig ( glück gehabt ) was entsteht danach ?
- aminosäure
+ wozu AS wird verwendet am einfachsten ?
- decarboxylierung
+ nein, am einfachsten
- dann, wieder verwendet zum Aufbau neuer Peptide
+ ja genau, was noch ?
- Desaminierung
+ welche produkte entsteht durch desaminierung ?
- Säure
+ ja, genauer organische säure, und jetzt wohin geht die säure ?
- stoffwechsel, z.B in citratzyklus.
+ Beispiel
- Fumarat aus aspartat
+ was noch ?
- pyruvat
+ ja, aber pyruvat kommt nicht in citrat zyklus
- ( also, er wollte intermediate in citrat zyklus ) malat, citrat .... ( leider ich hab schon vergessen )
+ es fehlt noch ein wictiges
- ( ich kann an nichts mehr errinnern, er wollte alpha-ketoglutarat hören )
+ und letzte ist decarboxlierung, was entsteht ?
- biogene amine
+ nicht unbedingt, amine sind es. welche Unterschied haben sie ?
- biogene Amine haben 2 amino gruppe.
+ richtig, wie wirkt biog. Amine ?
- Durchfall ( er ist nicht zufrieden ), Allergisch
+ ( er redet davon noch mehr und kommt die frage ) was verursacht Kopfschmerzen ?
- ( nicht sofort verstanden, aber er will, welche biog. amine es ist. wieder geraten ) putrescin
+ man kann damit tod sein ( O_o )
- histamin ??
+ ja. ( Glück gehabt ) Welche gefährliche Stoffe kommt aus biog. amine ?
- nitrosamine, aus nitrit und biogene amine
+ woher kommt nitrit ?
- Reduktion von nitrat
+ wie wird reduziert ?
- mit hilfe enzym ( ich hab noch nicht nitrat reduktase gesagt, vielleicht ist er nicht darin interessiert)
+ Welche MO macht das ?
- E. coli
+ warum nitrosamine gefährlich?
- es wird mit Leberenzym abgebaut, es kann Subtanzen wie Formaldehyd gebildet werden, die cancerogen sind oder mutation verursachen.
+ Welche art von Mutation ?
- ( weiss nicht, welche antwort erwartet er) reaktion mit DNA, falsche Paarung, krebs ( alle meinte er nicht )
+ ( er redet noch, aber welche Antwort wollte er, hab ich nicht wirklich verstanden )
Gemüseprodukte
( lief alles gut ? kommt noch dieser peinlichen Teil )
+ Auf welche gemüseprodukte findet man bacillus cereus ?
- ( o je, wenn keine ahnung dann raten ) Brot, sauerteig.....
+ nein, sie finden es nicht, in Musli. nun deswegen wie wird musli verkauft ?
- ( was meint er damit ? ich brauche zeit, idee zu finden ) in blockstuck ????
+ nein, wie wird es verpackt ? alu-folie, tüte, karton ?
- ( ach so ) alu folie
+ warum ?
- ...........
+ wieder keine idee ? schutzatmosphäre in der verpackung.
- so, alu-folie ist gasdicht
milch
+ ich will noch bei pathogene bleiben. lysterien ( neiiinnnn ). wo findet man ?
- ( schon wieder raten, ich hoffe lysterien unda salmonellen gehen gut gemeinsam ) Fisch, muscheln, krebs
+ falsch
- ( also nicht ) eier ( auch nicht ) milch ( jetzt richtig )
+ was verursacht lysterien ?
- ......durchfall ???
+ stichwort Frauen ( also Frauenkrankheit und ich soll es aus eigene erfahrung wissen ??? )
- ( es ist höffnungslos ) .....
+ Fehlgeburt. ( er redet davon noch und fragt ) wie gelingt Lysterien in embryo ?
- ( antwort es geht durch Plazenta, simple aber ich konnte nicht daran denken )
( sein handy hat geklingelt und er muss dran. Zeit ein bisschen zu beruhigen und review machen, ich glaube es wäre nur 3.0, mehr ist nicht )
+ ( er redet noch über lysterien und rohmilch) wenn man aus Rohmilch Käse essen will, welche Käse empfehlen Sie, hartkäse oder weichkäse ?
- ( wieder 50-50 antwort, raten dann ) hartkäse
+ richtig ( wieder glück ). warum ?
- ( gute frage ) ich antworte noch über käseoberfläche ( dumm, aber ich dachte weil es hart ist, wird es schwierig für lysterien durchzudringen )
+ nein, denken Sie an bakterien.
- dort leben anthagonische bakterien für lysterien ?? ( er meinte es nicht, mit hinweis komme ich noch auf die idee )
Milchsäure
+ ja, aber welche säure noch ?
- ...essigsäure ??
+ finden Sie nie
- ( endlich ich erinnere mich an propionibakterien ) propionsäure
+ wie wirkt diese auf bakterien ?
- ( ich kann nicht anders denken ) bakteriozidische wirkung
+ desinfiziert. was meinen sie, lysterien ist säuretolerant oder nicht ?
- nicht
+ ( jetzt redet er von Spätblähungen ) welche MO verursacht es ?
- clostridien
+ deswegen mit welche Fütter darf kuh nicht gefüttert werden ?
- ( das wort ist mir völlig unbekannt, keine erinnerung )
Selesai. Cukup lah buat lulus terutama karena bagian2 awalnya. Yang penting dah lewat.
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Thursday, July 23, 2009
Tuesday, June 2, 2009
A Basic Leadership
Gak bermaksud buat menggurui atau nunjukin seolah2 gw sangat mengerti dasar menjadi seorang pemimpin. Cuma rasanya basic2 leadership ini sangat relevan dalam kehidupan sehari2.
Teringat salah satu bukunya Dale Carnegie yang judulnya kira2 bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa membut orang lain mengikuti apa yang kita inginkan?
Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan bawahannya supaya bisa bekerja optimal dan tentu saja mengerti apa yang diinginkan pemimpinnya lalu dikerjakan. Nah masalahnya kadang orang gak ngerti apa si maunya kita dan biar pun ngerti belum tentu mereka mengikuti kemauan kita.
Sekarang konteksnya antar teman. Ini lebih susah lagi, karena hubungan di sini sejajar, gak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tak ada orang yang sukarela disuruh2 sama orang yang pangkatnya gak lebih tinggi. Jika sifatnya cuma minta tolong, masalahnya gak akan sebesar jika kita harus melakukan sesuatu bersama2 untuk kepentingan bersama.
Contohnya baru2 ini di rumah dapet peringatan dari Verwaltung karena kompor, ofen dan kulkas terlalu kotor. Kalau kulkas rasanya terlalu berlebihan, waktu dibersihin rasanya juga gak kotor2 amat. Kalo ngomongin kompor, ini lebih rame lagi. Semua orang emang gunain kompor buat masak, tapi tiap seminggu sekali kan dibersihin sama tukang bersih2. Sekarang kenapa bisa dapet peringatan karena terlalu kotor?
Mulai lah mencari sapa yang paling bikin kotor kompor dari ke 6 orang yang tinggal di situ. Tentu saja dugaan paling gencar jatuh ke orang daratan. Semua orang juga tahu orang daratan itu jorok2. Kalo masak gak pernah dibersihin, sisa2 sayuran dibiarin gitu aja. Makanya jatah bersihin kompor salah satunya jatuh ke si daratan.
Tapi masalahnya uda dibilangin di surat peringatan itu batas waktu kapan paling lambat harus dibersihin. Sampe lewat tanggalnya tetep aja gak bantu apa2 malah yang ngerjain akhirnya orang lain.
Sekarang datang lagi surat kedua untuk mengulangi peringatan pertama, karena kompor dan ofen masih kurang bersih. Ofen emang belum disentuh sapa2 dari kemaren. Tapi soal kompor gw harus bilangin lagi harus dibersihin, kalo lewat lagi tanggalnya bayar cleaning service. Dia juga sempat mengeluh karena di sekitar kompor itu banyak panci2, piring kotor yang ditumpuk begitu saja. Logis, karena emang gara2 tumpukan cucian itu daerah kompor dan wastafel gak bisa dibersihin maksimal.
Nah dari awal pindah ke Wohnheim ini gw juga uda menggerutu, NGEPET LAH siapa yang suka numpuk piring kotor sampe berhari2. Yang kena kali ini si bule, gw perhatiin emang dia yang suka numpukin piring, panci kotor.
Bukan sok bersih atau gimana. Emang semua yang tinggal di sini pasti pernah ngotorin kompor, gak langsung nyuci piring, panci bekas masak. Cuman jangan sampai kotornya berlebihan sampai dapet peringatan. Uda dari dulu makanya gw uda mulai biasain abis makan langsung cuci piring, kalo lagi malas taro di kamar dulu. Wajan yang masih ada minyak gorengnya masih gw biarin, soalnya sayang minyak mahal. Buat beberapa kali masak baru gw cuci.
Kembali ke tema awal..
Dari contoh kecil begini saja jelas kita butuh speaking skill supaya orang melakukan apa yang kita inginkan, bukan keinginan pribadi juga sih, tapi kepentingan bersama. Menjaga kebersihan kan harus jadi kesadaran masing2, cuma kadang ada orang yang kesadarannya kurang yang harus selalu diingatkan.
Kebayang kan gimana musti ngomongnya supaya, abis masak setidaknya bersihin sedikit lah atau jangan numpuk piring kotor terlalu banyak.
Kecenderungan pertama buat orang yang bilangin adalah emosi. Ya iya lah kalo uda dibilangin sekali masih belum ngerti juga sapa yang gak emosi, tapi apa bisa menyelesaikan masalah? Engga juga. Jika pada akhirnya dia ngikutin kemauan kita, tapi bisa saja hubungan antar 2 orang ini agak renggang.
Solusi yang paling top banget itu adalah dengan meyakinkan orang tersebut kalau dia juga diuntungkan kalau dia mengikutin kemauan kita. Jadi meyakinkan orang gak ada gunanya numpukin piring kotor berhari2, malah dengan mencuci piring langsung sehabis dipakai lebih baik untuk dia. Sama juga membiarkan kompor terlalu kotor sehabis masak pun gak berguna apa2, jika dibandingkan dengan membersihkan sedikit minyak yang tumpah atau sisa sayuran yang jatuh.
Nah cara ngomongnya gimana sampai sekarang gw juga gak tau, sampe sekarang aja gw masih sebel.
Sebagai penutup, dasar menjadi seorang leader adalah cara ngomong yang baik. Bagaimana dia bisa membuat seseorang untuk mengikuti kemauannya dengan meyakinkan orang itu, bahwa dia pun juga diuntungkan. Cara paling effektiv untuk orang yang paling bebal sekalipun tanpa harus emosi.
Teringat salah satu bukunya Dale Carnegie yang judulnya kira2 bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa membut orang lain mengikuti apa yang kita inginkan?
Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan bawahannya supaya bisa bekerja optimal dan tentu saja mengerti apa yang diinginkan pemimpinnya lalu dikerjakan. Nah masalahnya kadang orang gak ngerti apa si maunya kita dan biar pun ngerti belum tentu mereka mengikuti kemauan kita.
Sekarang konteksnya antar teman. Ini lebih susah lagi, karena hubungan di sini sejajar, gak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tak ada orang yang sukarela disuruh2 sama orang yang pangkatnya gak lebih tinggi. Jika sifatnya cuma minta tolong, masalahnya gak akan sebesar jika kita harus melakukan sesuatu bersama2 untuk kepentingan bersama.
Contohnya baru2 ini di rumah dapet peringatan dari Verwaltung karena kompor, ofen dan kulkas terlalu kotor. Kalau kulkas rasanya terlalu berlebihan, waktu dibersihin rasanya juga gak kotor2 amat. Kalo ngomongin kompor, ini lebih rame lagi. Semua orang emang gunain kompor buat masak, tapi tiap seminggu sekali kan dibersihin sama tukang bersih2. Sekarang kenapa bisa dapet peringatan karena terlalu kotor?
Mulai lah mencari sapa yang paling bikin kotor kompor dari ke 6 orang yang tinggal di situ. Tentu saja dugaan paling gencar jatuh ke orang daratan. Semua orang juga tahu orang daratan itu jorok2. Kalo masak gak pernah dibersihin, sisa2 sayuran dibiarin gitu aja. Makanya jatah bersihin kompor salah satunya jatuh ke si daratan.
Tapi masalahnya uda dibilangin di surat peringatan itu batas waktu kapan paling lambat harus dibersihin. Sampe lewat tanggalnya tetep aja gak bantu apa2 malah yang ngerjain akhirnya orang lain.
Sekarang datang lagi surat kedua untuk mengulangi peringatan pertama, karena kompor dan ofen masih kurang bersih. Ofen emang belum disentuh sapa2 dari kemaren. Tapi soal kompor gw harus bilangin lagi harus dibersihin, kalo lewat lagi tanggalnya bayar cleaning service. Dia juga sempat mengeluh karena di sekitar kompor itu banyak panci2, piring kotor yang ditumpuk begitu saja. Logis, karena emang gara2 tumpukan cucian itu daerah kompor dan wastafel gak bisa dibersihin maksimal.
Nah dari awal pindah ke Wohnheim ini gw juga uda menggerutu, NGEPET LAH siapa yang suka numpuk piring kotor sampe berhari2. Yang kena kali ini si bule, gw perhatiin emang dia yang suka numpukin piring, panci kotor.
Bukan sok bersih atau gimana. Emang semua yang tinggal di sini pasti pernah ngotorin kompor, gak langsung nyuci piring, panci bekas masak. Cuman jangan sampai kotornya berlebihan sampai dapet peringatan. Uda dari dulu makanya gw uda mulai biasain abis makan langsung cuci piring, kalo lagi malas taro di kamar dulu. Wajan yang masih ada minyak gorengnya masih gw biarin, soalnya sayang minyak mahal. Buat beberapa kali masak baru gw cuci.
Kembali ke tema awal..
Dari contoh kecil begini saja jelas kita butuh speaking skill supaya orang melakukan apa yang kita inginkan, bukan keinginan pribadi juga sih, tapi kepentingan bersama. Menjaga kebersihan kan harus jadi kesadaran masing2, cuma kadang ada orang yang kesadarannya kurang yang harus selalu diingatkan.
Kebayang kan gimana musti ngomongnya supaya, abis masak setidaknya bersihin sedikit lah atau jangan numpuk piring kotor terlalu banyak.
Kecenderungan pertama buat orang yang bilangin adalah emosi. Ya iya lah kalo uda dibilangin sekali masih belum ngerti juga sapa yang gak emosi, tapi apa bisa menyelesaikan masalah? Engga juga. Jika pada akhirnya dia ngikutin kemauan kita, tapi bisa saja hubungan antar 2 orang ini agak renggang.
Solusi yang paling top banget itu adalah dengan meyakinkan orang tersebut kalau dia juga diuntungkan kalau dia mengikutin kemauan kita. Jadi meyakinkan orang gak ada gunanya numpukin piring kotor berhari2, malah dengan mencuci piring langsung sehabis dipakai lebih baik untuk dia. Sama juga membiarkan kompor terlalu kotor sehabis masak pun gak berguna apa2, jika dibandingkan dengan membersihkan sedikit minyak yang tumpah atau sisa sayuran yang jatuh.
Nah cara ngomongnya gimana sampai sekarang gw juga gak tau, sampe sekarang aja gw masih sebel.
Sebagai penutup, dasar menjadi seorang leader adalah cara ngomong yang baik. Bagaimana dia bisa membuat seseorang untuk mengikuti kemauannya dengan meyakinkan orang itu, bahwa dia pun juga diuntungkan. Cara paling effektiv untuk orang yang paling bebal sekalipun tanpa harus emosi.
Tuesday, May 19, 2009
Bolos Kuliah
Mencari pembenaran diri...
Jarang2 sebenernya ada kelas pake bahasa inggris. Uda ada 1x 2x dosen tamu bawain kuliah pake inggris. Bukan dosen juga si cuma peneliti yang kebetulan kerja di sini dan bawain 1 tema khusus. Sekali kali enak juga lah dengerin kuliah inggris, bosen pake bahasa jerman mulu.
Dan kelas pun kali ini sepi.....
Makin lama pun makin berkurang, satu persatu orang keluar kelas.
Akhirnya tinggal 10 orang.
Loh kok tiba2 tinggal segini aja ? Jarang2 kelas cuman 10 orang. Apa karena bahasanya jadi ngabur semua ?? Ato karena materinya tadi kebetulan gampang atau bosenin ??
Kuliah yang ngebosenin itu banyak, tapi tetep rame. Masa si orang jerman inggrisnya kacrut, sampe gak bisa dengerin bahasa ingrris simpelnya dosen.
Kalo gitu wajar donk, kalo sebagai pelajar asing, kita sering bolos kuliah. Datang, gak datang sama aja. Sama2 gak terlalu ngerti dosen ngomong apa di depan. Orang jerman aja gitu kok kalo ada kelas inggris.
Quota bolos gw gak kayak semester awal lagi, biar kadang tetep kayak kambing congek di kelas. Dengan bangga gw bilang semester ini belum pernah bolos. Biar dengan kenyataan itu bolos kuliah itu gak salah2 amat tapi pengen cepet2 lah kelar kuliahnya, ambil pelajaran yang bisa diambil, masuk terus, daripada nerusin tidur.
Semoga bisa meringankan rasa bersalah mereka yang masih sering bolos.
Jarang2 sebenernya ada kelas pake bahasa inggris. Uda ada 1x 2x dosen tamu bawain kuliah pake inggris. Bukan dosen juga si cuma peneliti yang kebetulan kerja di sini dan bawain 1 tema khusus. Sekali kali enak juga lah dengerin kuliah inggris, bosen pake bahasa jerman mulu.
Dan kelas pun kali ini sepi.....
Makin lama pun makin berkurang, satu persatu orang keluar kelas.
Akhirnya tinggal 10 orang.
Loh kok tiba2 tinggal segini aja ? Jarang2 kelas cuman 10 orang. Apa karena bahasanya jadi ngabur semua ?? Ato karena materinya tadi kebetulan gampang atau bosenin ??
Kuliah yang ngebosenin itu banyak, tapi tetep rame. Masa si orang jerman inggrisnya kacrut, sampe gak bisa dengerin bahasa ingrris simpelnya dosen.
Kalo gitu wajar donk, kalo sebagai pelajar asing, kita sering bolos kuliah. Datang, gak datang sama aja. Sama2 gak terlalu ngerti dosen ngomong apa di depan. Orang jerman aja gitu kok kalo ada kelas inggris.
Quota bolos gw gak kayak semester awal lagi, biar kadang tetep kayak kambing congek di kelas. Dengan bangga gw bilang semester ini belum pernah bolos. Biar dengan kenyataan itu bolos kuliah itu gak salah2 amat tapi pengen cepet2 lah kelar kuliahnya, ambil pelajaran yang bisa diambil, masuk terus, daripada nerusin tidur.
Semoga bisa meringankan rasa bersalah mereka yang masih sering bolos.
Monday, December 22, 2008
1 Tahun denk-woanders; Tema Marriage
Blog gw uda 1 tahun aja umurnya dan total posting mencapai 59 biji. Kerajinan amat, tiap minggu 1 posting. Biar rajin nulis sepertinya super duper sedikit banget pembacanya, tapi biarin aja lah. Gw masih bakal nerusin nulis karena emang tujuan awalnya buat dokumentasiin perjalanan kuliah.
Tema perayaan 1 tahun ini gak perlu dipikir lama2. Tepat kemarin ini gw baru aja pulang dari aachen buat kondangannya bekas temen rumah lama gw. Jadi temanya soal nikah lanjutin posting terdahulu. Temen gw ini umurnya cuma beda 1 tahun aja dari gw, sama2 student yang belum kelar kuliahnya dan gak mungkin lulus tahun 2009. Karena dulu pernah tinggal serumah, jadinya tau juga sedikit banyak proses dari awal pacaran sampai akhirnya berani buat nikah. Dibilang mantap bener gw juga gak bisa bilang. Pacarannya gak terlalu lama dan karena keluarga temen gw di indo dan keluarga cewenya di jerman, maka 2 keluarga ini gak pernah ketemu langsung. MBA juga engga. Lantas datang dari mana keberanian temen gw ini ?
Tadinya bonyok temen gw ini bakal datang sebelum nikah tapi karena masalah visa akhirnya tertunda dan waktu wedding keluarga temen gw yang datang cuma 1 sepupunya aja, sisanya temen2 dari berlin dan itu juga gak banyak. Akad nikah ( karena dia islam) tanpa didampingi keluarga, gimana rasanya ya ?
Wedding dia banyak kasih inspirasi ke orang2 lain. Walau keadaannya begini akhirnya tetep jadi juga. Terharu juga jadinya. Walau acaranya berdasar islam tapi siraman rohaninya bisa gw terima karena yah emang gak salah. Semua cuma butuh keberanian. Gw juga masih gak bisa bayangin, masih student dan belum ada penghasilan tetap, gimana kasih makan istri. Tapi di situ juga keuntungannya. Nikah sebelum ada keuangan yang mantap, sedikit kemungkinan cewenya mau karena harta. Temen lain yang sering ngeledekin gw karena masih belum ada cewe bilangnya kalau kerjaan uda mantap cewe juga pasti datang. Gw cuma jawab balik percuma kalau cinta karena uda punya karir, modal, mobil, rumah dll. Bagaimana kalau cowonya tiba2 kesusahan, tanda tanya besar itu. Sangat dimengerti kalau cewe pengen punya cowo yang bisa menjamin hidupnya, tapi cowo juga pengen punya cewe yang bisa juga menemani di saat2 sulitnya. Sering terdengar pertanyaan, bisa gak cewe kita diajak hidup susah.
Temen yang lain lagi dengan sembrono bilang nyiapin mental itu mah gak susah. Pada awalnya gw gak bisa langsung terima, tapi akhirnya gw bisa juga ngerti kenapa bisa ada kesimpulan itu. Kalau memang sudah pengen, secara usia juga uda pantas emang harusnya gak susah. Kalau orang normal si, begitu uda kawin harusnya mulai belajar dengan sendirinya untuk menjalani
kewajiban dan tanggung jawabnya. Kalau memang bener2 sayang sama pasangannya harusnya orang juga bakal belajar dengan sendirinya untuk berusaha lebih dewasa.
Buat temen gw itu, selamat menempuh hidup baru. Walau masih ada banyak hal yang belum beres, keputusan buat nikah ini gak salah. Kalau memang dia sendiri yang bilang sudah waktunya, jangan ditunda lagi. Buat gw sendiri persiapan untuk ke arah itu masih lama, masih ada PR yang belum berhasil dikerjain.
Tema perayaan 1 tahun ini gak perlu dipikir lama2. Tepat kemarin ini gw baru aja pulang dari aachen buat kondangannya bekas temen rumah lama gw. Jadi temanya soal nikah lanjutin posting terdahulu. Temen gw ini umurnya cuma beda 1 tahun aja dari gw, sama2 student yang belum kelar kuliahnya dan gak mungkin lulus tahun 2009. Karena dulu pernah tinggal serumah, jadinya tau juga sedikit banyak proses dari awal pacaran sampai akhirnya berani buat nikah. Dibilang mantap bener gw juga gak bisa bilang. Pacarannya gak terlalu lama dan karena keluarga temen gw di indo dan keluarga cewenya di jerman, maka 2 keluarga ini gak pernah ketemu langsung. MBA juga engga. Lantas datang dari mana keberanian temen gw ini ?
Tadinya bonyok temen gw ini bakal datang sebelum nikah tapi karena masalah visa akhirnya tertunda dan waktu wedding keluarga temen gw yang datang cuma 1 sepupunya aja, sisanya temen2 dari berlin dan itu juga gak banyak. Akad nikah ( karena dia islam) tanpa didampingi keluarga, gimana rasanya ya ?
Wedding dia banyak kasih inspirasi ke orang2 lain. Walau keadaannya begini akhirnya tetep jadi juga. Terharu juga jadinya. Walau acaranya berdasar islam tapi siraman rohaninya bisa gw terima karena yah emang gak salah. Semua cuma butuh keberanian. Gw juga masih gak bisa bayangin, masih student dan belum ada penghasilan tetap, gimana kasih makan istri. Tapi di situ juga keuntungannya. Nikah sebelum ada keuangan yang mantap, sedikit kemungkinan cewenya mau karena harta. Temen lain yang sering ngeledekin gw karena masih belum ada cewe bilangnya kalau kerjaan uda mantap cewe juga pasti datang. Gw cuma jawab balik percuma kalau cinta karena uda punya karir, modal, mobil, rumah dll. Bagaimana kalau cowonya tiba2 kesusahan, tanda tanya besar itu. Sangat dimengerti kalau cewe pengen punya cowo yang bisa menjamin hidupnya, tapi cowo juga pengen punya cewe yang bisa juga menemani di saat2 sulitnya. Sering terdengar pertanyaan, bisa gak cewe kita diajak hidup susah.
Temen yang lain lagi dengan sembrono bilang nyiapin mental itu mah gak susah. Pada awalnya gw gak bisa langsung terima, tapi akhirnya gw bisa juga ngerti kenapa bisa ada kesimpulan itu. Kalau memang sudah pengen, secara usia juga uda pantas emang harusnya gak susah. Kalau orang normal si, begitu uda kawin harusnya mulai belajar dengan sendirinya untuk menjalani
kewajiban dan tanggung jawabnya. Kalau memang bener2 sayang sama pasangannya harusnya orang juga bakal belajar dengan sendirinya untuk berusaha lebih dewasa.
Buat temen gw itu, selamat menempuh hidup baru. Walau masih ada banyak hal yang belum beres, keputusan buat nikah ini gak salah. Kalau memang dia sendiri yang bilang sudah waktunya, jangan ditunda lagi. Buat gw sendiri persiapan untuk ke arah itu masih lama, masih ada PR yang belum berhasil dikerjain.
Saturday, October 4, 2008
Make an Efford and Know Your Limit
Kadang butuh usaha keras untuk mencapai sesuatu. Tapi pertanyaannya sampai sejauh mana ?
Limit di sini bukan limitnya matematik. Limit ini artinya batasan. Sempet kepikiran sebenernya apa sih yang membuat orang gak berhasil mencapai tujuannya.
Limit apa yang membatasi usaha orang ? Jawabannya banyak, bisa karena waktu, uang, tenaga, skill, fisik dll.
Terinspirasi dari blog teman, ternyata limit yang ada bukanlah limit yang mutlak. Limit yang ada adalah limit yang fleksibel. Pikiran yang berpendapat kalau saya tidak bisa, saya tidak punya kemampuan untuk itu, saya tidak akan pernah sanggup adalah pikiran yang menjadi limit. Kita mencoba dan gagal bukanlah menjadi pembuktian kalau pikiran itu benar. Pikiran yang berkesimpulan, saya sudah mencoba tapi selalu gagal adalah limit kedua.
Kegagalan itu cuma menunjukan kalau kita belum bisa mencapai tujuan itu sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman, pengetahuan, kemampuan orang akan bertambah. Keterbatasan materi juga bisa berubah.
Mungkin ada yang pernah merasa, dulu kayaknya ngerjain hal anu kok rasanya susah bener, tapi setelah dicoba lagi sekian lama ternyata gampang bener sampai gak ngerti kenapa dulu dicoba gak berhasil terus.
Lalu sebenarnya berapa jauh sebenernya limit kita ? Gak ada yang tahu. Kerja keras dan usaha yang bisa mendobrak limit semu itu. Jika orang mau berusaha, boleh siap2 terkejut dengan keberhasilan yang mungkin bisa dicapai.
Kemampuan manusia untuk terus berkembang mengherankan manusia itu sendiri. Manusia dianugerahi kemampuan dari Tuhan untuk bisa belajar. Teorinya perkembangan manusia ke arah tak terhingga itu mungkin, tapi sampai sejauh mana ?
Kemampuan yang ada sering digunakan manusia untuk mengejar uang, karir, kuasa, popularitas dll. Manusia terobsesi olehnya. Manusia memang tak pernah puas. Di sinilah limit memegang peranan penting. Manusia pun harus bisa menentukan sampai sejauh mana dia maju dan berkembang sebelum apa yang dia kejar menghancurkan dirinya. Manusia pun harus menentukan sampai sejauh mana dia harus terus mendobrak limit2nya atau untuk berhenti dan membatasi dirinya sendiri sebelum dia diperbudak oleh obsesinya sendiri.
Kok bisa aja tiba2 gw mikir kayak gini, kayaknya efek patah hati masih berasa. Obatnya menyibukan diri dengan kerja seperti yang gw lakukan sekarang. Minggu ini banyak bener kerjaan. Awal minggu ada lebaranan. Bawa rejeki buat yang gak ngerayain, anak2 yang ngerayain gak ada yang mau kerja di kbri buat bantuin acara lebaranan. Senen selasa kbri rabu kamis eurotape dan sekarang gw sakit beneran, kecapean kerja dan kurang tidur. Weleh weleh.
Limit di sini bukan limitnya matematik. Limit ini artinya batasan. Sempet kepikiran sebenernya apa sih yang membuat orang gak berhasil mencapai tujuannya.
Limit apa yang membatasi usaha orang ? Jawabannya banyak, bisa karena waktu, uang, tenaga, skill, fisik dll.
Terinspirasi dari blog teman, ternyata limit yang ada bukanlah limit yang mutlak. Limit yang ada adalah limit yang fleksibel. Pikiran yang berpendapat kalau saya tidak bisa, saya tidak punya kemampuan untuk itu, saya tidak akan pernah sanggup adalah pikiran yang menjadi limit. Kita mencoba dan gagal bukanlah menjadi pembuktian kalau pikiran itu benar. Pikiran yang berkesimpulan, saya sudah mencoba tapi selalu gagal adalah limit kedua.
Kegagalan itu cuma menunjukan kalau kita belum bisa mencapai tujuan itu sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman, pengetahuan, kemampuan orang akan bertambah. Keterbatasan materi juga bisa berubah.
Mungkin ada yang pernah merasa, dulu kayaknya ngerjain hal anu kok rasanya susah bener, tapi setelah dicoba lagi sekian lama ternyata gampang bener sampai gak ngerti kenapa dulu dicoba gak berhasil terus.
Lalu sebenarnya berapa jauh sebenernya limit kita ? Gak ada yang tahu. Kerja keras dan usaha yang bisa mendobrak limit semu itu. Jika orang mau berusaha, boleh siap2 terkejut dengan keberhasilan yang mungkin bisa dicapai.
Kemampuan manusia untuk terus berkembang mengherankan manusia itu sendiri. Manusia dianugerahi kemampuan dari Tuhan untuk bisa belajar. Teorinya perkembangan manusia ke arah tak terhingga itu mungkin, tapi sampai sejauh mana ?
Kemampuan yang ada sering digunakan manusia untuk mengejar uang, karir, kuasa, popularitas dll. Manusia terobsesi olehnya. Manusia memang tak pernah puas. Di sinilah limit memegang peranan penting. Manusia pun harus bisa menentukan sampai sejauh mana dia maju dan berkembang sebelum apa yang dia kejar menghancurkan dirinya. Manusia pun harus menentukan sampai sejauh mana dia harus terus mendobrak limit2nya atau untuk berhenti dan membatasi dirinya sendiri sebelum dia diperbudak oleh obsesinya sendiri.
Kok bisa aja tiba2 gw mikir kayak gini, kayaknya efek patah hati masih berasa. Obatnya menyibukan diri dengan kerja seperti yang gw lakukan sekarang. Minggu ini banyak bener kerjaan. Awal minggu ada lebaranan. Bawa rejeki buat yang gak ngerayain, anak2 yang ngerayain gak ada yang mau kerja di kbri buat bantuin acara lebaranan. Senen selasa kbri rabu kamis eurotape dan sekarang gw sakit beneran, kecapean kerja dan kurang tidur. Weleh weleh.
Thursday, August 21, 2008
The Way of Working Student
Gw uda bercerita di posting sebelumnya, gimana awal mulanya gw pengen sekolah di jerman. Kuliah di luar negri. Pikiran pertama gw, mampu gak bokap nyokap buat bayar biayanya. Gak semua orang tua terbuka sama anak soal duit. Gw gak bisa bilang, anak2 harus tahu atau tidak perlu tahu keadaan keuangan orang tuanya sendiri. Rencana sekolah di luar harus disesuaikan dengan keadaan keuangan keluarga. Gw gak merasa bokap kelebihan duit, jadi masalah ini harus dibahas. Bokap bilang mampu, nyokap ragu bakal mampu. Gak ada yang tau pengeluaran di sini totalnya berapa, tergantung kota dan gaya hidup masing2. Kalo ada yang nanya gw sekarang sebulan abis berapa, angka itu cuma berlaku buat gw, buat yang lain beda.
Dari 2 jawaban yang berbeda itu, gw cuma menyimpulkan, mampu tapi tidak untuk seterusnya. Muncul niat kedua, selain kuliah harus bisa bantu bonyok.
Buat orang yang fresh baru datang dari indo, masa2 awal di sini jadi masa2 yang paling sulit. Adaptasi, bahasa, lingkungan dll tapi tidak dalam hal keuangan. Buat
orang yang normal si harusnya sudah mempersiapkan modal duit, lagian syarat visanya juga harus bekuin rekening. Jangan datang dalam keadaan sulit. Lagi2 gw juga gak bisa bilang angka pengeluaran buat orang yang baru datang. Cuma harus diingat, masa2 awal pengeluarannya paling banyak, buat kursus bahasa, buat tiket bus bulanan, buat beli perabotan rumah, belanja makanan juga pasti lebih mahal karena belum tahu mana yang murah mana yang mahal. Ok, bulan2 awal masih banyak pengeluaran tapi itu normal. Jangan bilang lo langsung mikir nyari kerja. Pertama harus ingat apa tujuan orang datang ke sini, buat kuliah. Daripada buat kerja lebih baik kalau lo gunain waktu buat mempersiapkan diri untuk mencari studienkolleg atau tempat kuliah. Rajin2 kursus supaya kemampuan bahasa berkembang dan kesempatan lo untuk dapat tempat kuliah semakin besar. Pada akhirnya yah balik lagi ke soal duit tadi. Pengeluaran lo makin murah kalau uda masuk minimal studienkolleg, gak perlu bayar kursus bahasa lagi dan believe me sebelum lo dapet visa student yang baru bisa di apply setelah dapet minimal studienkolleg, kesempatan kerja legal tertutup. Cuma student yang punya ijin kerja di sini. Kalaupun uda punya ijin kerja sebelum kuliah, tetep aja belum punya immatrikulationsbescheinigung alias tanda bukti terdaftar di salah satu kampus dan tanda bukti ini biasanya juga diminta buat kerja. Kalau masih kursus bahasa kemungkinan besar harus kerja gelap.
Bekerja atau tidak adalah sebuah pilihan.
Kalau lagi saat2 ujian kadang muncul juga pikiran, kalau engga kerja mungkin bakal lebih enak, banyak waktu buat belajar, gak perlu mikirin yang lain, yang penting ujian lulus. Banyak juga pendapat mengenai hal ini. Ada pro dan kontra kuliah sambil bekerja dan akhirnya pilihan itu kembali ke pribadi masing2.
Yang kontra contohnya, selama orang tua masih mampu kenapa harus mati2an kerja. Jauh2 disekolahin ke sini kan untuk kuliah bukan untuk kerja. Orang tua juga gak berharap anaknya kerja terus, buat mereka yang penting kuliah yang bener. Sayang kalau kerja tapi kuliah terbengkalai.
Pikiran semacam ini selalu bener, gak bakal pernah bisa disalahkan. Orang tua manapun pasti bakal berharap anaknya bisa dapet sekolah yang terbaik.
Gw punya pertimbangan lain. Gw pernah bengong sendirian buat mikirin hal ini. Bagaimana jika kuliah tanpa kerja, apa pengaruhnya buat kuliah ?
Pada akhirnya gw berpikir gak bakal ada pengaruh yang signifikant dalam hal lama kuliah. Mungkin bakal mempercepat kuliah tapi gak akan jauh berbeda. Jika 20 jam dalam seminggu biasanya untuk kerja, maka tanpa kerja akan ada extra 20 jam tiap minggu. Gw gak bisa membayangkan kalau tambahan 20 jam itu bisa gw gunain seluruhnya buat tambahan waktu belajar. Mungkin dari 20 jam itu, tambahan waktu belajar cuma sekitar 4-5 jam, sisanya main, jalan atau untuk waktu santai. Emang gw masih payah buat ngatur waktu.
Lalu pemikirannya dibalik, bagaimana jika kuliah dengan kerja, apa pengaruhnya buat gw ?
Pertama bisa bantu orang tua untuk biaya hidup di sini karena gw uda menyimpulkan bonyok mampu tapi tidak untuk seterusnya. Bekerja juga bisa melatih mental dan tanggung jawab. Walaupun bukan kerja yang elite setidaknya dengan kerja kita bisa merasakan mencari uang itu tidak mudah. Kadang juga bisa jadi kepuasan diri juga, uang yang gw pegang sekarang itu hasil keringat sendiri, bukan lagi dari kiriman. Belajar juga untuk bekerja dengan benar dan serius, engga cuma kerja sambil mengeluh, juga untuk menguji kerajinan, ketelitian, inisiatif, kedisiplinan dalam kerja. Gw pikir biar kerja serabutan tapi setidaknya mental bekerja bisa dilatih mengingat gw bakal lulus kuliah umur 27-28 mungkin lebih, dengan umur segitu orang lain mungkin uda punya 4-6 tahun pengalaman kerja. Jangan sampai di umur segitu kita gak ngerti, dalam dunia kerja musti gimana. Kalau ada keuntungan tambahan, gw bisa bilang untuk ngelatih bahasa juga, untuk dapat kenalan juga, sebagai selingan karena gak mungkin donk di sini kerjaan gw cuma belajar aja dan kepuasan pribadi karena bisa mandiri.
Point terakhir yang paling sulit adalah untuk belajar mengatur waktu, supaya jangan sampai kecemplung terlalu dalam. Kerja tapi lupa kuliah. Kecapean kerja sampai gak bisa belajar lagi. Prioritas utama tetap harus kuliah, jika suatu saat gak bisa lagi kuliah sambil kerja, gw janji bakal berenti kerja. Sekarang si masih bisa jalan dua2nya. Gw juga masih belajar buat ngatur waktu kerja dan belajar. Kerja lancar tapi kuliah gagal gak ada artinya juga, kan.
Dari 2 jawaban yang berbeda itu, gw cuma menyimpulkan, mampu tapi tidak untuk seterusnya. Muncul niat kedua, selain kuliah harus bisa bantu bonyok.
Buat orang yang fresh baru datang dari indo, masa2 awal di sini jadi masa2 yang paling sulit. Adaptasi, bahasa, lingkungan dll tapi tidak dalam hal keuangan. Buat
orang yang normal si harusnya sudah mempersiapkan modal duit, lagian syarat visanya juga harus bekuin rekening. Jangan datang dalam keadaan sulit. Lagi2 gw juga gak bisa bilang angka pengeluaran buat orang yang baru datang. Cuma harus diingat, masa2 awal pengeluarannya paling banyak, buat kursus bahasa, buat tiket bus bulanan, buat beli perabotan rumah, belanja makanan juga pasti lebih mahal karena belum tahu mana yang murah mana yang mahal. Ok, bulan2 awal masih banyak pengeluaran tapi itu normal. Jangan bilang lo langsung mikir nyari kerja. Pertama harus ingat apa tujuan orang datang ke sini, buat kuliah. Daripada buat kerja lebih baik kalau lo gunain waktu buat mempersiapkan diri untuk mencari studienkolleg atau tempat kuliah. Rajin2 kursus supaya kemampuan bahasa berkembang dan kesempatan lo untuk dapat tempat kuliah semakin besar. Pada akhirnya yah balik lagi ke soal duit tadi. Pengeluaran lo makin murah kalau uda masuk minimal studienkolleg, gak perlu bayar kursus bahasa lagi dan believe me sebelum lo dapet visa student yang baru bisa di apply setelah dapet minimal studienkolleg, kesempatan kerja legal tertutup. Cuma student yang punya ijin kerja di sini. Kalaupun uda punya ijin kerja sebelum kuliah, tetep aja belum punya immatrikulationsbescheinigung alias tanda bukti terdaftar di salah satu kampus dan tanda bukti ini biasanya juga diminta buat kerja. Kalau masih kursus bahasa kemungkinan besar harus kerja gelap.
Bekerja atau tidak adalah sebuah pilihan.
Kalau lagi saat2 ujian kadang muncul juga pikiran, kalau engga kerja mungkin bakal lebih enak, banyak waktu buat belajar, gak perlu mikirin yang lain, yang penting ujian lulus. Banyak juga pendapat mengenai hal ini. Ada pro dan kontra kuliah sambil bekerja dan akhirnya pilihan itu kembali ke pribadi masing2.
Yang kontra contohnya, selama orang tua masih mampu kenapa harus mati2an kerja. Jauh2 disekolahin ke sini kan untuk kuliah bukan untuk kerja. Orang tua juga gak berharap anaknya kerja terus, buat mereka yang penting kuliah yang bener. Sayang kalau kerja tapi kuliah terbengkalai.
Pikiran semacam ini selalu bener, gak bakal pernah bisa disalahkan. Orang tua manapun pasti bakal berharap anaknya bisa dapet sekolah yang terbaik.
Gw punya pertimbangan lain. Gw pernah bengong sendirian buat mikirin hal ini. Bagaimana jika kuliah tanpa kerja, apa pengaruhnya buat kuliah ?
Pada akhirnya gw berpikir gak bakal ada pengaruh yang signifikant dalam hal lama kuliah. Mungkin bakal mempercepat kuliah tapi gak akan jauh berbeda. Jika 20 jam dalam seminggu biasanya untuk kerja, maka tanpa kerja akan ada extra 20 jam tiap minggu. Gw gak bisa membayangkan kalau tambahan 20 jam itu bisa gw gunain seluruhnya buat tambahan waktu belajar. Mungkin dari 20 jam itu, tambahan waktu belajar cuma sekitar 4-5 jam, sisanya main, jalan atau untuk waktu santai. Emang gw masih payah buat ngatur waktu.
Lalu pemikirannya dibalik, bagaimana jika kuliah dengan kerja, apa pengaruhnya buat gw ?
Pertama bisa bantu orang tua untuk biaya hidup di sini karena gw uda menyimpulkan bonyok mampu tapi tidak untuk seterusnya. Bekerja juga bisa melatih mental dan tanggung jawab. Walaupun bukan kerja yang elite setidaknya dengan kerja kita bisa merasakan mencari uang itu tidak mudah. Kadang juga bisa jadi kepuasan diri juga, uang yang gw pegang sekarang itu hasil keringat sendiri, bukan lagi dari kiriman. Belajar juga untuk bekerja dengan benar dan serius, engga cuma kerja sambil mengeluh, juga untuk menguji kerajinan, ketelitian, inisiatif, kedisiplinan dalam kerja. Gw pikir biar kerja serabutan tapi setidaknya mental bekerja bisa dilatih mengingat gw bakal lulus kuliah umur 27-28 mungkin lebih, dengan umur segitu orang lain mungkin uda punya 4-6 tahun pengalaman kerja. Jangan sampai di umur segitu kita gak ngerti, dalam dunia kerja musti gimana. Kalau ada keuntungan tambahan, gw bisa bilang untuk ngelatih bahasa juga, untuk dapat kenalan juga, sebagai selingan karena gak mungkin donk di sini kerjaan gw cuma belajar aja dan kepuasan pribadi karena bisa mandiri.
Point terakhir yang paling sulit adalah untuk belajar mengatur waktu, supaya jangan sampai kecemplung terlalu dalam. Kerja tapi lupa kuliah. Kecapean kerja sampai gak bisa belajar lagi. Prioritas utama tetap harus kuliah, jika suatu saat gak bisa lagi kuliah sambil kerja, gw janji bakal berenti kerja. Sekarang si masih bisa jalan dua2nya. Gw juga masih belajar buat ngatur waktu kerja dan belajar. Kerja lancar tapi kuliah gagal gak ada artinya juga, kan.
Friday, January 25, 2008
Sebuah Kesempatan Terakhir
Apa yang bakal lo lakukan kalau lo cuma punya 1 kesempatan terakhir lagi buat mencapai tujuan, impian, harapan dll ?
Berusaha tambah keras atau pasrah aja karena di kesempatan sebelumnya gagal terus ?
Sebuah pilihan.
Ngelanjutin blog yang sebelomnya gw sih sebenernya pengen bilang, ternyata ujian biochemie gw yang kemaren memang galtot alias gagal total. Jadi pasti mündlich, kesempatan terakhir buat ngelulusin ujian ini.
Kecewa, pasti. Sedih, jangan nanya. Putus asa, ntar dulu.
Lalu gimana...
gw bisa aja nulis betapa hari hari terakhir ini gak pernah enak, selalu bikin kesel, bikin cape.
Susah juga buat taat sama peraturan blog ini. Ga boleh ada keluh kesah, ga ada caci maki, ga ada pikiran negatif.
Semuanya harus diganti sama yang positif.
OK, terus jadinya ada 2 pilihan,
Belajar lagi buat lulus atau mulai mikir alternatif lain, seperti siap2 di DO, ganti jurusan, pulang abis.
Buat kalian yang masih normal jelas pilihan mana yang bakal dipilih.
Tapi buat gw, gw mikir sesuatu yang lain. Nah, ini dia inti blog kali ini.
Apakah benar cuma ada 2 pilihan ?
TIDAK.
Sebenernya cuma ada 1 pilihan, yaitu belajar lebih keras lagi supaya lulus.
Yang lain adalah konsekuensinya jika satu satunya pilihan itu tidak dipilih, atau dengan kata lain tidak berusaha dengan sungguh sungguh untuk belajar dan memperjuangkan satu satunya pilihan itu.
Ini yang disebut pikiran positif.
Bagi yang berpikir tetap ada 2 pilihan. Yah, ini dia yang masih mikir negatif. Yang masih memikirkan tetap ada jalan untuk mundur.
Jadi buat ujiannya lagi gagal, ingat aja cuma ada 1 pilihan dan 1 konsekuensi.
Terus, gimana ?
Kalau gw mikir gini, gw uda lega sedikit. Gw masih pengen berpikir positif, gw bakal berjuang.
Dan kali ini adalah sebuah KESEMPATAN bukan kegagalan. Kalaupun gw lulus paling cuma dapet 4,0. Dan di mündliche Prüfung kebanyakan orang malah dapet nilai lebih bagus daripada yang ujian tertulis. Di balik kesempatan terakhir ternyata ada sebuah harapan besar.
Or is it just me and my big mouth ?
Tunggu kabar gw lagi semester depan.
Berusaha tambah keras atau pasrah aja karena di kesempatan sebelumnya gagal terus ?
Sebuah pilihan.
Ngelanjutin blog yang sebelomnya gw sih sebenernya pengen bilang, ternyata ujian biochemie gw yang kemaren memang galtot alias gagal total. Jadi pasti mündlich, kesempatan terakhir buat ngelulusin ujian ini.
Kecewa, pasti. Sedih, jangan nanya. Putus asa, ntar dulu.
Lalu gimana...
gw bisa aja nulis betapa hari hari terakhir ini gak pernah enak, selalu bikin kesel, bikin cape.
Susah juga buat taat sama peraturan blog ini. Ga boleh ada keluh kesah, ga ada caci maki, ga ada pikiran negatif.
Semuanya harus diganti sama yang positif.
OK, terus jadinya ada 2 pilihan,
Belajar lagi buat lulus atau mulai mikir alternatif lain, seperti siap2 di DO, ganti jurusan, pulang abis.
Buat kalian yang masih normal jelas pilihan mana yang bakal dipilih.
Tapi buat gw, gw mikir sesuatu yang lain. Nah, ini dia inti blog kali ini.
Apakah benar cuma ada 2 pilihan ?
TIDAK.
Sebenernya cuma ada 1 pilihan, yaitu belajar lebih keras lagi supaya lulus.
Yang lain adalah konsekuensinya jika satu satunya pilihan itu tidak dipilih, atau dengan kata lain tidak berusaha dengan sungguh sungguh untuk belajar dan memperjuangkan satu satunya pilihan itu.
Ini yang disebut pikiran positif.
Bagi yang berpikir tetap ada 2 pilihan. Yah, ini dia yang masih mikir negatif. Yang masih memikirkan tetap ada jalan untuk mundur.
Jadi buat ujiannya lagi gagal, ingat aja cuma ada 1 pilihan dan 1 konsekuensi.
Terus, gimana ?
Kalau gw mikir gini, gw uda lega sedikit. Gw masih pengen berpikir positif, gw bakal berjuang.
Dan kali ini adalah sebuah KESEMPATAN bukan kegagalan. Kalaupun gw lulus paling cuma dapet 4,0. Dan di mündliche Prüfung kebanyakan orang malah dapet nilai lebih bagus daripada yang ujian tertulis. Di balik kesempatan terakhir ternyata ada sebuah harapan besar.
Or is it just me and my big mouth ?
Tunggu kabar gw lagi semester depan.
Saturday, January 12, 2008
Katakan Dengan Blog
Pada hari ini PPI Berlin mengadakan acara yang menarik sekali, yaitu Katakan Dengan Tinta ( KDT), sebuah seminar tentang jurnalistik untuk menyebarkan gagasan bahwa menulis itu penting.
Memang benar menulis itu penting, kenapa ? Pada awalnya orang disekolahkan untuk belajar membaca dan menulis.
Sekali lagi MEMBACA DAN MENULIS.
Untuk orang zaman dahulu, kemampuan membaca dan menulis merupakan suatu tolok ukur bahwa orang itu berpendidikan dan mungkin punya wawasan yang lebih.
Untuk zaman sekarang mungkin urusan membaca dan menulis tidak lagi cukup. Orang harus punya kemampuan, ilmu pengetahuan, keterampilan di bidang tertentu untuk bisa mencari uang atau bekerja.
Tapi di zaman ini dengan makin mudahnya kesempatan bersekolah , bisa mengenyam pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, kesempatan bersekolah di luar negri, apakah orang dengan otomatis bisa membaca dan menulis ?
Engga juga tuh.
Membaca dengan artian mau membaca sebuah buku sampai habis, tekun dalam membaca da sering membaca.
Gw masih belom bisa membaca yang baik rupanya. Mau baca buku pelajaran aja cepet ngantuk, baca buku 1 tema aja nyicilnya lama, minjam buku dari perpus belum tentu dibuka. Yang lancar cuma baca novel atau komik.
Nah menulis apalagi. Disuruh mengarang aja ngecap, alias tulis apa yang ada di pikiran lo, yang penting panjang, 1 tema dibahas bertele tele gak pake inti, yang penting waktu dikumpulin terlihat panjang dan dapet nilai yang bagus. Gurunya juga ga bakal baca kok. Soalnya pengalaman di sekolah dulu begitu, karangan pendek, to the point, ga pernah dapet nilai maksimal. Nginget nginget ulangan PPKn, agama, bahasa indonesia waktu dulu hehehehhe.
Intinya teknik teknik menulis yang baik dan benar sama sekali gak dilatih. Prakteknya panjang karangan yang menentukan nilai ulangan.
Seminar Katakan Dengan Tinta mencoba untuk membuka wawasan kita untuk melihat ternyata gak semua orang berpendidikan bisa menulis baik, bagaimana memulai menulis, apa yang penting jika orang ingin menulis dsb.
Idenya sudah ada sejak lama tapi belum bisa direalisasikan secepatnya, sampai suatu ketika ketua PPI Berlin menelepon gw dan memberi kabar bahwa KDT akan dijalankan dan gw ditunjuk sebagai koordinator konsumsi.
OMG, kayaknya sejak sering membantu acara makan malam di KBRI, jabatan ini semakin lengket melekat di diri gw. Ga bisa protes, apalagi uda ditunjuk dan acaranya sudah cukup dekat. Alasan cuma gw satu satunya yang akrab dengan konsumsi KBRI sebenarnya tidak benar, pasukan berbatik bukan cuma gw doank, banyak student yang pernah membantu juga di KBRI dan pernah menyentuh logistik juga.
Jadi KDT tetap berlangsung dan gw tetep sebagai konsumsi.
Pembicara kali ini adalah seorang senior di bidang jurnalistik, cukup terkenal ( sejujurnya gw ga pernah denger tentang dia sih ), sekarang dubes ceko yaitu Bapak Salim Said.
Gw udah mulai lupa lupa lagi nih apa isi seminarnya. Sebelum gw bener lupa semuanya mending gw tulis dulu beberapa point penting yang beliau sampaikan.
Pada zaman dahulu filsuf2, pemikir2 dan penulis2 mendapatkan bahan2 tulisan dari berefleksi, berpikir atau merenungkan sendiri. Tapi sekarang cara itu udah gak bisa dipakai lagi karena gak perlu orang susah2 mikirin suatu bahan tulisan karena referensi untuk suatu tema apapun itu banyak. Buku dan literatur sudah sekian banyak tidak seperti waktu abad2 awal. Orang yang mencari bahan dengan berefleksi, berpikir atau merenungkan sendiri sekarang uda ga ada.
Yang penting adalah membaca tulisan2 yang sudah ada.
Iya nih, sekarang intinya membaca lagi. Ternyata tujuan awal sekolah bersekolah untuk bisa membaca dan menulis tidak selalu dimengerti oleh pelajar dan orang2 yang sudah punya gelar akademis. Cuma bisa tapi tidak mau membaca itu menjadi penyakit orang indonesia kebanyakan. Untuk membuat tulisan ilmiah atau tulisan lainnya orang perlu mencari bahan yang didapat dengan membaca.
Lalu bagaimana belajar teknik menulisnya? Dari membaca juga. Banyak buku2 tentang bagaimana cara menulis yang baik, tinggal dibaca. Yang agak sulit adalah menemukan tema tulisan yang harus dipikir sendiri. Lalu apakah dengan membaca bukunya, otomatis orang langsung bisa menulis ? Engga juga. Itu harus dilatih juga dengan belajar menuliskan sesuatu. Semakin banyak orang menulis, semakin banyak juga orang tahu, bagaimana orang memperbaiki tulisannya sendiri. Übung macht Meister, stimmt?
Katakan dengan blog adalah suatu tindakan praktek langsung untuk seminar katakan dengan tinta. Di sini gw bakal banyak menulis. Gw uda menuliskan kenapa gw sampai membuat blog ini di posting pertama gw. Bapak Salim Said juga mengatakan sulitnya mencari referensi suatu sejarah, karena pelaku sejarahnya gak pernah menuliskan ceritanya. Gw bikin blog juga sebagai bahan pengingat sejarah, yaitu sejarah gw sendiri. Orang bakal lupa sama riwayat hidupnya sendiri, yakin deh. Lo mana bisa lagi disuruh cerita tentang masa sekolah lo, ketika uda tua nanti. Pasti banyak lupanya.
Sekarang gw aja disuruh cerita tentang sekolah gw aja, uda banyak lupa. Pikun amat ya.
Menulis blog juga suatu latihan juga buat gw, setidaknya. Ok lah kalau sekarang isi blog gw masih berantakan, isinya gak jelas, temanya kabur, kurang kreatifitasnya, gaya tulisan masih belom menarik. Mungkin suatu saat kalau gw uda bisa menulis lebih baik lagi, gw masih bisa menggunakan salah satu fitur blog yang sangat penting dan berguna, yaitu EDIT YOUR BLOG, hehehehhehe.
Maksudnya kalau tulisan pertama masih kacau balau, ya gapapa. Suatu saat masih bisa diedit, diperbaiki, ditambahkan pokok pikiran baru dan lama2 mungkin bisa jadi tulisan yang lebih baik lagi.
Menulis itu bisa jadi gak sesulit yang dibayangkan lagi. Cuma sediain waktu buat menulis, cari tema yang ringan, ga butuh banyak buku referensi, bisa cepet dikerjakan.
Gw aja nulis blog ini gak butuh baca sesuatu dulu, cuma nulis begitu saja apa yang ada dipikiran gw dan mengorek2 ingatan gw. Yaaa, prinsip ngecap itu tadi. Tapi serius deh, kalo lo sering nulis kayak gitu, ngecap lo juga bakal tambah jago. Bertele telenya agak berkurang, penyampaian ide bakal tambah jelas, susunan tulisan juga bakal tambah rapi dsb. Itu salah satunya memulai cara belajar menulis yang paling gampang.
Kalo disuruh nulis yang berat2 dan profesional seperti wartawan gw juga belom bisa kali, yang pake referensi buku tebel2, yang musti pake bahasa ilmiah, yang berkaitan dengan kuliah.
Blog ini gw bikin sekalian juga sebagai latihan nulis juga. Sebagai tambahan sarana pengingat riwayat gw. Gw masih banyak tema2 yang ada di kepala gw. Blog gw ini masih bakal panjang lagi. Mudah2an dengan sering ngisi blog kebiasaan menulis gw akan terlatih dan suatu saat ketika sudah waktunya menulis Diplomarbeit atau karya ilmiah lainnya, gw uda gak bingung2 lagi.
Memang benar menulis itu penting, kenapa ? Pada awalnya orang disekolahkan untuk belajar membaca dan menulis.
Sekali lagi MEMBACA DAN MENULIS.
Untuk orang zaman dahulu, kemampuan membaca dan menulis merupakan suatu tolok ukur bahwa orang itu berpendidikan dan mungkin punya wawasan yang lebih.
Untuk zaman sekarang mungkin urusan membaca dan menulis tidak lagi cukup. Orang harus punya kemampuan, ilmu pengetahuan, keterampilan di bidang tertentu untuk bisa mencari uang atau bekerja.
Tapi di zaman ini dengan makin mudahnya kesempatan bersekolah , bisa mengenyam pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, kesempatan bersekolah di luar negri, apakah orang dengan otomatis bisa membaca dan menulis ?
Engga juga tuh.
Membaca dengan artian mau membaca sebuah buku sampai habis, tekun dalam membaca da sering membaca.
Gw masih belom bisa membaca yang baik rupanya. Mau baca buku pelajaran aja cepet ngantuk, baca buku 1 tema aja nyicilnya lama, minjam buku dari perpus belum tentu dibuka. Yang lancar cuma baca novel atau komik.
Nah menulis apalagi. Disuruh mengarang aja ngecap, alias tulis apa yang ada di pikiran lo, yang penting panjang, 1 tema dibahas bertele tele gak pake inti, yang penting waktu dikumpulin terlihat panjang dan dapet nilai yang bagus. Gurunya juga ga bakal baca kok. Soalnya pengalaman di sekolah dulu begitu, karangan pendek, to the point, ga pernah dapet nilai maksimal. Nginget nginget ulangan PPKn, agama, bahasa indonesia waktu dulu hehehehhe.
Intinya teknik teknik menulis yang baik dan benar sama sekali gak dilatih. Prakteknya panjang karangan yang menentukan nilai ulangan.
Seminar Katakan Dengan Tinta mencoba untuk membuka wawasan kita untuk melihat ternyata gak semua orang berpendidikan bisa menulis baik, bagaimana memulai menulis, apa yang penting jika orang ingin menulis dsb.
Idenya sudah ada sejak lama tapi belum bisa direalisasikan secepatnya, sampai suatu ketika ketua PPI Berlin menelepon gw dan memberi kabar bahwa KDT akan dijalankan dan gw ditunjuk sebagai koordinator konsumsi.
OMG, kayaknya sejak sering membantu acara makan malam di KBRI, jabatan ini semakin lengket melekat di diri gw. Ga bisa protes, apalagi uda ditunjuk dan acaranya sudah cukup dekat. Alasan cuma gw satu satunya yang akrab dengan konsumsi KBRI sebenarnya tidak benar, pasukan berbatik bukan cuma gw doank, banyak student yang pernah membantu juga di KBRI dan pernah menyentuh logistik juga.
Jadi KDT tetap berlangsung dan gw tetep sebagai konsumsi.
Pembicara kali ini adalah seorang senior di bidang jurnalistik, cukup terkenal ( sejujurnya gw ga pernah denger tentang dia sih ), sekarang dubes ceko yaitu Bapak Salim Said.
Gw udah mulai lupa lupa lagi nih apa isi seminarnya. Sebelum gw bener lupa semuanya mending gw tulis dulu beberapa point penting yang beliau sampaikan.
Pada zaman dahulu filsuf2, pemikir2 dan penulis2 mendapatkan bahan2 tulisan dari berefleksi, berpikir atau merenungkan sendiri. Tapi sekarang cara itu udah gak bisa dipakai lagi karena gak perlu orang susah2 mikirin suatu bahan tulisan karena referensi untuk suatu tema apapun itu banyak. Buku dan literatur sudah sekian banyak tidak seperti waktu abad2 awal. Orang yang mencari bahan dengan berefleksi, berpikir atau merenungkan sendiri sekarang uda ga ada.
Yang penting adalah membaca tulisan2 yang sudah ada.
Iya nih, sekarang intinya membaca lagi. Ternyata tujuan awal sekolah bersekolah untuk bisa membaca dan menulis tidak selalu dimengerti oleh pelajar dan orang2 yang sudah punya gelar akademis. Cuma bisa tapi tidak mau membaca itu menjadi penyakit orang indonesia kebanyakan. Untuk membuat tulisan ilmiah atau tulisan lainnya orang perlu mencari bahan yang didapat dengan membaca.
Lalu bagaimana belajar teknik menulisnya? Dari membaca juga. Banyak buku2 tentang bagaimana cara menulis yang baik, tinggal dibaca. Yang agak sulit adalah menemukan tema tulisan yang harus dipikir sendiri. Lalu apakah dengan membaca bukunya, otomatis orang langsung bisa menulis ? Engga juga. Itu harus dilatih juga dengan belajar menuliskan sesuatu. Semakin banyak orang menulis, semakin banyak juga orang tahu, bagaimana orang memperbaiki tulisannya sendiri. Übung macht Meister, stimmt?
Katakan dengan blog adalah suatu tindakan praktek langsung untuk seminar katakan dengan tinta. Di sini gw bakal banyak menulis. Gw uda menuliskan kenapa gw sampai membuat blog ini di posting pertama gw. Bapak Salim Said juga mengatakan sulitnya mencari referensi suatu sejarah, karena pelaku sejarahnya gak pernah menuliskan ceritanya. Gw bikin blog juga sebagai bahan pengingat sejarah, yaitu sejarah gw sendiri. Orang bakal lupa sama riwayat hidupnya sendiri, yakin deh. Lo mana bisa lagi disuruh cerita tentang masa sekolah lo, ketika uda tua nanti. Pasti banyak lupanya.
Sekarang gw aja disuruh cerita tentang sekolah gw aja, uda banyak lupa. Pikun amat ya.
Menulis blog juga suatu latihan juga buat gw, setidaknya. Ok lah kalau sekarang isi blog gw masih berantakan, isinya gak jelas, temanya kabur, kurang kreatifitasnya, gaya tulisan masih belom menarik. Mungkin suatu saat kalau gw uda bisa menulis lebih baik lagi, gw masih bisa menggunakan salah satu fitur blog yang sangat penting dan berguna, yaitu EDIT YOUR BLOG, hehehehhehe.
Maksudnya kalau tulisan pertama masih kacau balau, ya gapapa. Suatu saat masih bisa diedit, diperbaiki, ditambahkan pokok pikiran baru dan lama2 mungkin bisa jadi tulisan yang lebih baik lagi.
Menulis itu bisa jadi gak sesulit yang dibayangkan lagi. Cuma sediain waktu buat menulis, cari tema yang ringan, ga butuh banyak buku referensi, bisa cepet dikerjakan.
Gw aja nulis blog ini gak butuh baca sesuatu dulu, cuma nulis begitu saja apa yang ada dipikiran gw dan mengorek2 ingatan gw. Yaaa, prinsip ngecap itu tadi. Tapi serius deh, kalo lo sering nulis kayak gitu, ngecap lo juga bakal tambah jago. Bertele telenya agak berkurang, penyampaian ide bakal tambah jelas, susunan tulisan juga bakal tambah rapi dsb. Itu salah satunya memulai cara belajar menulis yang paling gampang.
Kalo disuruh nulis yang berat2 dan profesional seperti wartawan gw juga belom bisa kali, yang pake referensi buku tebel2, yang musti pake bahasa ilmiah, yang berkaitan dengan kuliah.
Blog ini gw bikin sekalian juga sebagai latihan nulis juga. Sebagai tambahan sarana pengingat riwayat gw. Gw masih banyak tema2 yang ada di kepala gw. Blog gw ini masih bakal panjang lagi. Mudah2an dengan sering ngisi blog kebiasaan menulis gw akan terlatih dan suatu saat ketika sudah waktunya menulis Diplomarbeit atau karya ilmiah lainnya, gw uda gak bingung2 lagi.
Saturday, December 22, 2007
Sang Pemenang
Untuk melengkapi posting latar, memotivasi diri.
Ingat waktu pertama kali kita memulai kehidupan awal kita. Cuma ada 1 sel telur dan ada berjuta2 sel sperma. Di manakah lo waktu itu ? Lo adalah salah satu dari sel sperma yang berlomba2 mencari sel telur. Start dengan waktu yang hampir bersamaan dengan jalur, trek yang sama juga.
Bagaimana perjuangan waktu itu, ga ada satu orang pun yang ingat. Yang jelas lo sel pertama yang sampai di finish, mengalahkan berjuta2 saudara lo yang lain. Cuma lo satu satunya pemenang. ( Kalau bukan lahir kembar ).
Gimana perasaan lo waktu itu, menang dalam persaingan 'terberat' dalam hidup lo? Peserta balap sepeda aja kalah banyak.
Dan sekarang lo merasa hidup itu isinya cuma kegagalan, ga ada yang bisa dibanggain. Come on, you were the winner and are still the winner.
Gimana bisa sekarang lo bilang kalo hidup lo gagal ? Emang selama hidup lo gak pernah belajar sesuatu ?
Lo putus sekolah karena biaya, apa lo ga berusaha kerja buat bantu nyari uang ? Lo jadi tau apa artinya kerja keras, tau apa artinya hidup yang sebenernya, lebih dari anak sekolah yang kebanyakan ga pernah mikirin apa2 selain urusan sekolahnya.
Lo lahir di keluarga miskin, sama aja. Dibanding anak2 orang kaya, lo belajar lebih menghargai harta benda lo, belajar ngatur duit, hidup cermat daripada anak orang kaya.
Lo cacat tapi otak lo normal, lo tetep bisa gunain otak seperti orang lain. Pendidikan masih bisa lo dapet. Hati lo jadi tegar, tabah karena keterbatasan lo. Lo ga bakal jadi orang yang lembek dan lemah hati.
Biar bagaimana pun, lo masih bisa memperjuangkan sesuatu buat hidup lo. Hidup lo bakal terus berkembang, pilihan2 baru bakal tetep terbuka. Cuma mungkin lo kurang sabar, kurang jeli, ga pernah mencoba atau terlalu iri melihat orang lain sehingga membutakan mata lo akan keahlian, kesuksesan lo sendiri.
Thanks to frater yoseph buat inspirasinya.
Ingat waktu pertama kali kita memulai kehidupan awal kita. Cuma ada 1 sel telur dan ada berjuta2 sel sperma. Di manakah lo waktu itu ? Lo adalah salah satu dari sel sperma yang berlomba2 mencari sel telur. Start dengan waktu yang hampir bersamaan dengan jalur, trek yang sama juga.
Bagaimana perjuangan waktu itu, ga ada satu orang pun yang ingat. Yang jelas lo sel pertama yang sampai di finish, mengalahkan berjuta2 saudara lo yang lain. Cuma lo satu satunya pemenang. ( Kalau bukan lahir kembar ).
Gimana perasaan lo waktu itu, menang dalam persaingan 'terberat' dalam hidup lo? Peserta balap sepeda aja kalah banyak.
Dan sekarang lo merasa hidup itu isinya cuma kegagalan, ga ada yang bisa dibanggain. Come on, you were the winner and are still the winner.
Gimana bisa sekarang lo bilang kalo hidup lo gagal ? Emang selama hidup lo gak pernah belajar sesuatu ?
Lo putus sekolah karena biaya, apa lo ga berusaha kerja buat bantu nyari uang ? Lo jadi tau apa artinya kerja keras, tau apa artinya hidup yang sebenernya, lebih dari anak sekolah yang kebanyakan ga pernah mikirin apa2 selain urusan sekolahnya.
Lo lahir di keluarga miskin, sama aja. Dibanding anak2 orang kaya, lo belajar lebih menghargai harta benda lo, belajar ngatur duit, hidup cermat daripada anak orang kaya.
Lo cacat tapi otak lo normal, lo tetep bisa gunain otak seperti orang lain. Pendidikan masih bisa lo dapet. Hati lo jadi tegar, tabah karena keterbatasan lo. Lo ga bakal jadi orang yang lembek dan lemah hati.
Biar bagaimana pun, lo masih bisa memperjuangkan sesuatu buat hidup lo. Hidup lo bakal terus berkembang, pilihan2 baru bakal tetep terbuka. Cuma mungkin lo kurang sabar, kurang jeli, ga pernah mencoba atau terlalu iri melihat orang lain sehingga membutakan mata lo akan keahlian, kesuksesan lo sendiri.
Thanks to frater yoseph buat inspirasinya.
Thursday, December 20, 2007
Latar
sebuah pendahuluan
Rasanya ga seru deh kalo posting pertama langsung cerita yang macem macem, apalagi ini blog pertama gw. Mending gw bikin dulu pendahuluan seperti layaknya sebuah buku, tulisan dsb.
Perkenalan.
Gw adalah mahasiswa indo di berlin, jerman. Ngambil program diplom ing teknik pangan. Cowo. Umur dan nama gak penting, status apalagi. Ntar lama2 juga tau kok kalau sering2 baca, apalagi kalo lo juga di berlin. Nama blogger gw wete.
Dah gitu aja.
Kenapa gw pengen bikin blog ?
Salah satu fungsi dari blog adalah sebagai buku harian. Gw ini orangnya pelupa. Gw juga bingung kenapa. Gw sering ngalamin dimana gw ga bisa nginget kejadian yang uda lewat. Sesuatu yang dulu sangat bermakna, bisa jadi gw ga bisa ingat lagi sekarang atau cuma ingat setengah2, seperti pengalaman lucu, sedih, seru misalnya waktu sekolah dulu. If i try to tell somebody, i can't tell so much. If i try to write, stories begin to flow. Gw gak setuju kalo ada orang bilang hidupnya biasa2 aja, mungkin karena dia gak bisa mengeluarkan ingatanya sendiri. Masing masing orang pasti punya ceritanya sendiri. Setelah menyelesaikan 1 posting kadang2 gw mikir, mengingat kembali jalan2 yang sudah dilalui selama ini bisa membuat gw jadi lebih menghargai hidup gw sendiri. Ternyata apa yang sudah kita lalui bukan sesuatu yang tidak bermakna, tapi sesuatu yang indah dan berharga buat hidup kita masing2. Sesuatu yang bisa membuat kita bersyukur kepada Sang Pencipta.
Gw mikir blog ini sebagai protokol, laporan, pengabadian perjalanan hidup gw di jerman. Supaya kapan2 kalo gw lupa, ada tulisan yang bisa bantu jadi sarana pengingat. Gw bakal mulai cerita dari jaman sekolah dulu, karena dari situ pondasinya gw nyasar kuliah di sini dan juga buat mengingat lagi. Tapi sayangnya gak bisa ketulis semua karena emang uda lama dan blog ini emang khusus buat masa kuliah aja.
Yah gw juga gak tau, bakal jadi kayak apa cerita di blog ini. Endingnya tergantung dari usaha gw. Apa semuanya bakal pendek kalo kuliah gw cepet atau malah jadi cerita panjang.
Pertama tama mungkin kronologisnya agak kacau, karena gw mulai nulisnya uda di saat kuliah dan musti banyak bikin kilas baliknya.
Sekarang aturannya.
Cukup 1 aja lah, ga perlu banyak2. Blog ini ga boleh berisi ttg penyesalan akan sesuatu atau pelampiasan kemarahan, kekecewaan atau hal hal negatif lainnya.
Karena tujuan blog ini bukan untuk menyesali, marah2 sama orang atau bertangis2 tapi untuk berpikir positif, berefleksi, bercerita dan berbagi.
Sebisa mungkin menjaga identitas orang2 yang muncul di postingan.
Isinya.
Uda beberapa kesebut, tentang inspirasi, hidup gw, refleksi, review masa lalu, harapan, mungkin sedikit philosofi atau sharing kalo misalnya gw desperate, punya masalah dan butuh pendapat dari kalian.
Nama.
Judul blognya begitu karena bisa dibilang blog ini lanjutan dari 5 buku jurnal, diari yang pernah gw bikin di rentang waktu juli 1999-april 2002 waktu sekolah dulu.
Diari itu sebenernya buat refleksi karena kondisi sekolah gw dulu memang membuat gw harus sering berefleksi. Tapi isinya sangat melanggar aturan blog yang sekarang, heheheh. Sangat ga berguna, bukannya refleksi isinya cuma kutukan dan pelampiasan kemarahan. Biar tetep ada inspirasi penting, gw males dan malu ngebacanya lagi. Sebagian malah uda gw musnahkan.
Mudah mudahan gw bisa rajin ngisi blog yang ini.
My sixth diary
enjoy it.
first edit 7.08.08
Rasanya ga seru deh kalo posting pertama langsung cerita yang macem macem, apalagi ini blog pertama gw. Mending gw bikin dulu pendahuluan seperti layaknya sebuah buku, tulisan dsb.
Perkenalan.
Gw adalah mahasiswa indo di berlin, jerman. Ngambil program diplom ing teknik pangan. Cowo. Umur dan nama gak penting, status apalagi. Ntar lama2 juga tau kok kalau sering2 baca, apalagi kalo lo juga di berlin. Nama blogger gw wete.
Dah gitu aja.
Kenapa gw pengen bikin blog ?
Salah satu fungsi dari blog adalah sebagai buku harian. Gw ini orangnya pelupa. Gw juga bingung kenapa. Gw sering ngalamin dimana gw ga bisa nginget kejadian yang uda lewat. Sesuatu yang dulu sangat bermakna, bisa jadi gw ga bisa ingat lagi sekarang atau cuma ingat setengah2, seperti pengalaman lucu, sedih, seru misalnya waktu sekolah dulu. If i try to tell somebody, i can't tell so much. If i try to write, stories begin to flow. Gw gak setuju kalo ada orang bilang hidupnya biasa2 aja, mungkin karena dia gak bisa mengeluarkan ingatanya sendiri. Masing masing orang pasti punya ceritanya sendiri. Setelah menyelesaikan 1 posting kadang2 gw mikir, mengingat kembali jalan2 yang sudah dilalui selama ini bisa membuat gw jadi lebih menghargai hidup gw sendiri. Ternyata apa yang sudah kita lalui bukan sesuatu yang tidak bermakna, tapi sesuatu yang indah dan berharga buat hidup kita masing2. Sesuatu yang bisa membuat kita bersyukur kepada Sang Pencipta.
Gw mikir blog ini sebagai protokol, laporan, pengabadian perjalanan hidup gw di jerman. Supaya kapan2 kalo gw lupa, ada tulisan yang bisa bantu jadi sarana pengingat. Gw bakal mulai cerita dari jaman sekolah dulu, karena dari situ pondasinya gw nyasar kuliah di sini dan juga buat mengingat lagi. Tapi sayangnya gak bisa ketulis semua karena emang uda lama dan blog ini emang khusus buat masa kuliah aja.
Yah gw juga gak tau, bakal jadi kayak apa cerita di blog ini. Endingnya tergantung dari usaha gw. Apa semuanya bakal pendek kalo kuliah gw cepet atau malah jadi cerita panjang.
Pertama tama mungkin kronologisnya agak kacau, karena gw mulai nulisnya uda di saat kuliah dan musti banyak bikin kilas baliknya.
Sekarang aturannya.
Cukup 1 aja lah, ga perlu banyak2. Blog ini ga boleh berisi ttg penyesalan akan sesuatu atau pelampiasan kemarahan, kekecewaan atau hal hal negatif lainnya.
Karena tujuan blog ini bukan untuk menyesali, marah2 sama orang atau bertangis2 tapi untuk berpikir positif, berefleksi, bercerita dan berbagi.
Sebisa mungkin menjaga identitas orang2 yang muncul di postingan.
Isinya.
Uda beberapa kesebut, tentang inspirasi, hidup gw, refleksi, review masa lalu, harapan, mungkin sedikit philosofi atau sharing kalo misalnya gw desperate, punya masalah dan butuh pendapat dari kalian.
Nama.
Judul blognya begitu karena bisa dibilang blog ini lanjutan dari 5 buku jurnal, diari yang pernah gw bikin di rentang waktu juli 1999-april 2002 waktu sekolah dulu.
Diari itu sebenernya buat refleksi karena kondisi sekolah gw dulu memang membuat gw harus sering berefleksi. Tapi isinya sangat melanggar aturan blog yang sekarang, heheheh. Sangat ga berguna, bukannya refleksi isinya cuma kutukan dan pelampiasan kemarahan. Biar tetep ada inspirasi penting, gw males dan malu ngebacanya lagi. Sebagian malah uda gw musnahkan.
Mudah mudahan gw bisa rajin ngisi blog yang ini.
My sixth diary
enjoy it.
first edit 7.08.08
Subscribe to:
Posts (Atom)